Dahlan Iskan
Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951; umur 62 tahun), adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya posisinya tersebut kemudian digantikan oleh putranya, Azrul Ananda,. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
Awal karier
Karier Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.
Jawa Pos
Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.
Fangbian Iskan Corporindo (FIC)
Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong, dengan panjang serat optik 4.300 kilometer.
Perusahaaan Listrik Negara (PLN)
Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta.Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (Menteri BUMN)
Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.
Dahlan melaksanakan beberapa program yang akan dijalankan dalam pengelolaan BUMN. Program utama itu adalah restrukturisasi aset dan "downsizing" (penyusutan jumlah) sejumlah badan usaha. Ihwal restrukturisasi masih menunggu persetujuan Menteri Keuangan.
Beberapa kinerjanya disorot. Dahlan gagal membawa lima perusahaan BUMN untuk melepas saham perdana (initial public offering/IPO) di lantai bursa.Adapun, berkat kepemimpinannya, BUMN dinilai bersih dari korupsi oleh masyarakat juga merupakan kinerja dan keberhasilannya membangun BUMN.
Beliau juga giat mendukung program mobil nasional yang berpenggerak listrik. Namun pada tanggal 5 Januari 2013, beliau mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil listrik Tucuxi di kawasan Tawangmangu, Jawa Timur. Dahlan Iskan selamat, namun mobilnya rusak parah.
Kehidupan pribadi
Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang pengalaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi transplantasi hati di Cina.
Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.
VISI MISI
Gelaran Konvensi
Demokrat untuk mencari capres potensial resmi dimulai hari Minggu, 15 September
2013. Deklarasi Konvensi Demokrat ini diikuti oleh sebelas peserta yang sudah
terpilih pada tahap pra konvensi, empat diantaranya dari internal Partai
Demokrat. Mereka adalah Pramono Edhie Wibowo, Hayono Isman, Marzuki Alie dan
Sinyo Harry Sarundajang. Sedangkan tujuh orang lainnya berasal dari non partai.
Mereka adalah Ali Masykur Musa, Anis Baswedan, Dahlan Iskan, Endriartono
Sutarto, Gita Wirjawan, Dino Patti Djalal dan Irman Gusman. Kesebelas peserta
konvensi tersebut dipersilakan untuk memperkenalkan diri dan berkesempatan
untuk menyampaikan visi dan misinya jika kelak terpilih menjadi capres dari
Partai Demokrat. Para peserta konvensi diharapkan bisa menarik perhatian
masyarakat dan bisa meningkatkan elektabilitas Partai Demokrat pada Pemilihan
Legislatif 2014 kelak. Sehingga, jika ambang batas PT 20% tercapai maka Partai
Demokrat bisa mengusung capres dan cawapresnya sendiri tanpa perlu berkoalisi.
Dengan adanya konvensi ini dipastikan
kesebelas pesertanya akan mulai dikenal di masyarakat. Meskipun mereka harus
bekerja keras untuk dapat bersaing dengan tokoh yang sudah jauh lebih tinggi
popularitas dan elektabilitasnya seperti Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Karena
untuk bisa bersaing dengan tokoh seperti Jokowi, para peserta harus bisa
membangun jaringan politik hingga ke masyarakat bawah. Para peserta harus bisa
membangun citra diri yang positif dan bisa menarik simpati masyarakat karena
citra pemimpin yang disukai rakyat saat ini melekat pada sosok Jokowi.
Namun tidak ada greget yang bisa
diperlihatkan para peserta dalam menyampaikan visi dan misinya. Sebagian besar
masih didominasi oleh gaya pidato yang klise dan monoton. Tidak ada sesuatu
yang bisa menarik perhatian para pemirsa TVRI (siaran live) dari orasi politik
yang disampaikan oleh para peserta. Hanya empat kandidat yang dianggap
‘menggelitik’ menurut anggota komite konvensi, Effendi Gazali. Tanpa menyebut
nama, satu diantaranya adalah Dahlan Iskan. Dalam jumpa pers sebelum acara
dimulai Dahlan Iskan mengaku belum memikirkan apakah hasil akhir konvensi bakal
bisa melampaui elektabilitas Jokowi. Dia tidak mau terbebani dengan target
konvensi untuk bisa melampaui elektabilitas Jokowi yang makin meroket. Yang
dipikirkannya adalah mempersiapkan diri mengikuti konvensi dengan baik.
Yang menarik dari Dahlan Iskan adalah
gayanya saat menyampaikan visi dan misinya yang bergaya Clintonnisme. Gaya ini
dipakai Bill Clinton dalam menyampaikan visi dan misinya saat kampanye
presiden. Tujuannya jelas untuk menarik simpati warga Amerika. Hal ini pula
yang dilakukan Dahlan Iskan dalam mengawali orasinya. Diawali dengan
menceritakan siapa dirinya dan awal mula mengikuti Konvensi Demokrat, yang pada
awalnya memang tidak disetujui oleh istri beliau. Tetapi dengan lihai Dahlan
Iskan bisa meyakinkan sang istri hingga akhirnya ijin untuk mengikuti
konvensipun keluar. Selanjutnya Dahlan mengaku pula tidak punya kelebihan
diantara pesaingnya sesama capres Konvensi Demokrat dengan mengatakan kalau
dirinya adalah figur paling lemah diantara figur lainnya. “Kelebihan yang saya
punyai adalah saya yang paling lemah. Cuma tamatan SMA,” ujar Dahlan merendah
pada acara pengenalan peserta konvensi. Dahlan juga mengaku kalau lebih memprioritaskan
tugasnya sebagai menteri BUMN. Tugas-tugasnya di BUMN tidak akan terbengkalai
karena keikutsertaannya di konvensi. Kalaupun tidak terpilih dalam konvensi ini
Dahlan Iskan mengaku sudah siap karena lebih mengutamakan pekerjaan.
Dalam pemaparannya juga Dahlan Iskan
menyebut sebagai calon presiden ia ingin mengubah Negara Indonesia ini dari
negara dagang menjadi negara industri. Kebiasaan impor yang dilakukan sejak
tahun 1998 mengakibatkan Negara Indonesia yang tadinya negara industri berubah
menjadi negara dagang. Lebih banyak mengimpor daripada memproduksi barang. Jika
ini bisa dilakukan maka untuk lima tahun kedepan Indonesia bisa menjadi negara
industri dan selanjutnya bisa mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk
Indonesia.
Suatu visi dan misi yang bagus dan idealis,
hanya saja mengubah suatu keadaan tidaklah semudah yang dipetakan. Banyak
permasalahan yang akan timbul jika sudah menyangkut perut masyarakat banyak.
Dahlan Iskan harus banyak belajar menghadapi permasalahan yang lebih kompleks.
Karena tanpa itu semua visi dan misinya tidak akan berjalan sesuai yang
diharapkan.
Hasil survei Soegeng Saryadi School of
Government (SSSG) menyebutkan bahwa Dahlan Iskan
memiliki tingkat elektabilitas yang mencolok berkisar 31,6% disusul Anis
Baswedan 5,6% kemudian di tempat ketiga Pramono Edhie Wibowo 2,5%. Dalam hal
ini Dahlan Iskan leading di ajang konvensi dan berpeluang untuk memenangkan
Konvensi Demokrat. Karakter Dahlan Iskan mendekati sosok pemimpin yang disukai
masyarakat. Sederhana, rendah hati, jujur dan sebagai menteri BUMN bisa membuat
perusahaan-perusahaan plat merah itu kembali menangguk profit. Meskipun tidak
sedikit juga yang collaps. Hanya saja Dahlan Iskan belum berpengalaman menjadi
kepala daerah. Memerintah di suatu daerah meskipun dengan skala kecil,
mempunyai permasalahan yang lebih rumit dibanding memimpin suatu perusahaan.
Karena bersentuhan langsung dengan aspirasi rakyat. Seorang pemimpin perusahaan
yang handal sekalipun belum tentu bisa memimpin rakyat. Rakyatlah yang akan
menilai dan merasakan gaya kepemimpinannya. Selama ini Dahlan Iskan bekerja
menjadi ‘boss’ para pemimpin perusahaan-perusahaan BUMN yang sebagian sudah
berjalan bagus kinerjanya karena mempunyai direktur yang handal. Tetapi sebagai
peserta Konvensi Demokrat, Dahlan Iskan dinilai lebih baik dari para peserta
lainnya .
Yang menjadi pertanyaan, mampukah Dahlan
Iskan mengalahkan Jokowi dalam gaya kepemimpinan yang pro rakyat? Masyarakat
sudah terlanjur menempatkan gaya kepemimpinan Jokowi dalam hatinya. Meskipun
masyarakat itu sendiri ada yang tidak pernah dipimpin secara langsung oleh
Jokowi. Dan menempatkan bahwa rakyat adalah raja. Seorang pemimpin harus berani
menjadi pelayan untuk rajanya. Benarkah Dahlan Iskan diprediksi akan menjadi kuda
hitam jika Jokowi dicapreskan. Dengan catatan pula Partai Demokrat memenuhi PT
20% . Siapkah sang kuda hitam ini melaju menjadi kuda pacu ?
LEMBAGA SURVEI
Survei LSJ: Dahlan Iskan Capres
Alternatif Paling Banyak Dipilih
April 1, 2013 News
No comments
dahlan-populer130328b
Liputan6.com, Jakarta : Lembaga Survei Jakarta (LSJ) merilis hasil jajak
pendapat terhadap tingkat keterpilihan calon presiden yang tidak memiliki
partai sebagai kendaraan politik atau yang dikenal sebagai calon alternatif.
Hasilnya, nama Menteri BUMN Dahlan Iskan menjadi calon alternatif paling
populer.
“Yang kami survei adalah nama-nama di
luar partai politik, tapi namanya sering disebut media atau dikenal sebagai
capres alternatif. Dengan pertanyaan, seandainya pilpres dilaksanakan sekarang
siapa yang akan dipilih, responden menjawab Dahlan Iskan,” kata Direktur Riset
LSJ Rendy Kurnia di Jakarta, Kamis (28/3/2013).
Menurut Rendy, sebanyak 17,2 persen
responden memilih Dahlan Iskan, 13,1 persen memilih Ketua Mahfud MD, dan 10,8
persen memilih Raja Dangdut Rhoma Irama. Para responden menilai Dahlan sebagai
sosok sederhana, responsif, jujur, dan merakyat.
“Ia juga dinilai memiliki sosok
sederhana dan anti protokoler. Selain itu, dengan jaringan media dimilikinya
semakin memperkuat pula alasan publik memilihnya menjadi capres potensial di
2014,” ucap Rendy.
Meski demikian, langkah Dahlan sebagai
calon presiden dinilai akan tertahan. Sebab, hingga saat ini masih belum
memiliki kendaraan politik untuk bertarung dalam Pilpres 2014.
Survei LSJ ini dilakukan tanggal 4
Febuari sampai 16 Maret 2013 di 33 provinsi. Survei ini menggunakan sampel
1.225 orang dengan tingkat kesalahan 2,8 persen. Jajak pendapat dilakukan
menggunakan teknik wawancara responden dengan pedoman kuisioner.
Berikut tingkat elektabilitas capres
alternatif berdasar survei LSJ:
1. Dahlan Iskan (17,2 persen)
2. Mahfud MD (13,1 persen)
3. Rhoma Irama (10,8 persen)
4. Abraham Samad (5,2 persen)
5. Sri Mulyani Indrawati (3,9
persen)
6. Chairul Tanjung (3,6
persen)
7. Djoko Suyanto (2,8 persen)
8. Rizal Ramli (2,5 persen)
9. Pramono Edhie Wibowo (1,9
persen)
10. Irman Gusman (1,4 persen)
11. Gita Wirjawan (1,3
persen)
12. Anies Baswedan (1,1
persen)
JAKARTA - Hasil
survei Pusat Data Bersatu (PDB) tentang popularitas dan akseptabilitas
peserta konvensi calon presiden (capres) dari Partai Demokrat menempatkan
Dahlan Iskan di posisi teratas.
Dari survei itu diketahui popularitas
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu mencapai 71,2 persen, dan tingkat
penerimaan publik (akseptabilitas) juga teratas di angka 48,4 persen. Di posisi
kedua ada Marzuki Alie dengan popularitas 61,7 persen dan akseptabilitasnya
24,8 persen.
Sementara popularitas Pramono Edhie Wibowo
dengan Anies Baswedan bersaing ketat di urutan ketiga dan empat masing-masing
dengan persentase 39,4 persen dan 39,2 persen.
Sedangkan akseptabilitas Pramono hanya 12,6
persen, kalah dibanding Anies Baswedan sebesar 18,8 persen. Di urutan
berikutnya ada nama Gita Wirjawan, Haryono Isman, Dino Patti Jalal dan nama
lani.
"Secara spesifik survei ini melihat
dua kubu yang diadu, antara capres konvensi partai demokrat dengan capres di
luar konvensi. Untuk sesama peserta konvensi, yang tertinggi ternyata Pak
Dahlan Iskan, 71,2 persen, disusul Marzuki Ali 61,8 persen," kata peneliti
PDB, Agus Herta di Jakarta, Kamis (10/10).
Namun saat capres peserta konvensi dengan
non konvensi disandingkan, survei PDB menyimpulkan bahwa secara umum
popularitas capres konvensi Partai Demokrat masih kalah bersaing dibanding
capres di luar konvensi. Dari 11 capres konvensi, hanya popularitas Dahlan yang
mampu bersaing dengan capres non konvensi.
Dari survei bisa dilihat bahwa nama Joko
Widodo masih berada diurutan teratas sebagai capres paling populer (95,2
persen). Menyusul Jusuf Kalla 93,4 persen, Megawati Soekarno Putri 92,4 persen,
Aburizal Bakrie 89,8 persen, Prabowo Subianto 89,2 persen, Wiranto 89 persen,
Hatta Rajasa 88,2 persen dan Dahlan Iskan 71,2 persen.
"Dari hasil ini kita lihat peserta
konvensi tidak ada yang di atas 80 persen. Jadi masih sangat rendah. Untuk
menjadi seorang Presiden saya kira harus di atas 80 persen," kata Agus.
Dari segi elektabilitas, dari 11 peserta
konvensi, hanya Dahlan Iskan yang bisa bersaing dengan capres di luar konvensi.
Dimana hasil survei PDB mencatat elektabilitas Joko Widodo masih teratas 36,0.
Sedangkan Prabowo (6,6), menyusul Dahlan Iskan (5,0). Jusuf Kalla (4,6),
Wiranto (4,0), Aburizal Bakrie (3,0), Mahfud MD (2,4) dan Megawati (2,0).
Direktur sekaligus peneliti PDB, Didik
Rahbini mengatakan survei ini dilakukan menggunakan metode telepolling, atau
wawancara melalui telepon yang dilakukan 21-24 September 2013. Responden
dipilih secara acak sistematis berdasarkan buku telepon residensial yang
diterbitkan oleh PT Telkom.
Jumlah responden yang dilibatkan dalam
survei ini sebanyak 500 orang di 10 kota besar, di antaranya DKI Jakarta,
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Balikpapan, Makassar
dan Jayapura. Tingkat margin error lebih kurang 4,5 persen pada tingkat
kepercayaan 95 persen.
Menurut Didik, untuk menjadi capres minimal
popularitasnya harus di atas 90 persen. "Semua capres konvensi demokrat,
kecuali Pak Dahlan, itu ada di papan bawah. Jadi konvensi PD ini konvensi
belajar yang memang untuk meningkatkan popularitas partai," ujarnya.
(fat/jpnn)
JAKARTA, KOMPAS.com — Survei Soegeng
Sarjadi School of Government (SSSG) menempatkan Menteri Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) Dahlan Iskan sebagai calon yang paling layak memenangkan Konvensi
Calon Presiden Partai Demokrat. Peneliti SSSG Ilman Nafian merujuk pada survei
yang dilakukan baru-baru ini untuk mengukur popularitas peserta Konvensi Partai
Demokrat.
Hasilnya, ungkap Ilman, popularitas Dahlan
Iskan berada di posisi paling atas dengan 15,1 persen, diikuti Marzuki Alie
12,5 persen, Anies Baswedan 9,2 persen, dan Pramono Edhie Wibowo dengan
popularitas sebesar 8,8 persen.
Peserta konvensi lainnya, Dino Patti
Djalal, meraih 7,0 persen, Ali Masykur Musa 5,3 persen, Endriartono Sutarto 4,9
persen, Gita Wirjawan 4,3 persen, Hayono Isman 3,4 persen, Irman Gusman 1,6
persen, dan Sinyo Harry Sarundajang 0,6 persen.
Selain menyurvei popularitas peserta
konvensi, SSSG juga melakukan survei mengenai
peserta yang paling layak memenangkan kompetisi konvensi atau peserta yang
paling layak menjadi calon presiden Partai Demokrat. Ilman mengatakan, hasilnya
tak jauh berbeda.
Nama Dahlan Iskan tetap berada di posisi
teratas (31,8 persen), diikuti oleh Anies Baswedan (5,6 persen), Pramono Edhie
Wibowo (2,6 persen), dan Marzuki Alie (2,1 persen). Sementara presentase peserta
lainnya tak lebih dari satu persen.
"Survei ini kami lakukan waktu Mahfud
MD dan Jusuf Kalla dikatakan ikut konvensi, tapi ternyata mereka menolak.
Sebanyak 19,3 persen responden memilih Jusuf Kalla, dan 10,7 persen memilih
Mahfud," kata Ilman.
Survei dilakukan pada 25 Agustus sampai 9
September 2013 dengan melibatkan 1.250 responden yang tersebar di 10 kota
besar. Sepuluh kota tersebut adalah DKI Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang,
Medan, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Balikpapan.
Metode pengumpulan data dengan wawancara
telepon. Tingkat keyakinan hasil survei ini 95 persen dan sampling of error
lebih kurang 2,77 persen. Kriteria responden di 10 kota besar ialah yang
memiliki telepon rumah dan telah memiliki hak pilih pada Pemilu 2014. Sampel
atau responden diambil secara acak dari nomor telepon yang terdapat di buku
daftar pelanggan Telkom.
Mengenai sumber dana untuk melakukan survei ini,
SSSG mengaku independen dengan menghabiskan biaya sekitar Rp 60 juta.
PENCITRAAN
TEMPO.CO, Jakarta -
Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan meluruskan pemberitaan yang
menyebutkan dia mengamuk di tol Semanggi Jakarta, Selasa 20 Maret 2012. Amukan
Dahlan dengan membuka palang pintu tol dan mengratiskan hampir 100 penguna tol
itu menjadi topik hangat di banyak situs berita, media elektronik hingga
jejaring sosial.
Saat mengamuk tadi pagi,
Dahlan sempat juga membanting kursi dua petugas jaga loket pintu tol. Namun
kata Dahlan, dia bukan membanting kursi itu, tapi justru membuangnya ke jalan.
" Saya tidak membanting kursi itu" tulis Dahlan dalam surat
elektroniknya yang diterima Tempo dari Tianjin, Cina, Selasa 20 Maret 2012.
" Jangan salah, saya malah membuangnya ke pinggir jalan"
Dahlan kini sudah ada di
Tianjin, Cina untuk memeriksa kesehatan. Sejak menjalani transplantasi hati
pada 6 Agustus 2007 di First Centre Hospital, Tianjin, China, ia wajib mengecek
kesehatannnya. Tahun ini, ia akan melewati masa kritis bagi seorang
transplantasi liver karena sudah lima tahun.
Pemeriksaan dia kali ini
pun, sudah terlambat karena hampir delapan bulan lamanya. Dahlan pun akhirnya
berangkat memeriksan diri karena terus ditegur dokter yang lelah mengingatkan
karena dia sudah lama menunda pemeriksaan.
Dahlan mengaku sengaja
membuang kursi tol itu ke jalanan karena menganggap, kursi penjaga pintu tol
itu tidak berguna lagi. Karena toh, petugas yang seharusnya mendudukinya, tidak
ada di loket. Padahal, seharusnya pada jam-jam itu, kendaraan banyak mengantri
masuk gerbang tol yang begitu panjang.
"Saya marahnya juga
bukan mendadak" kata Dahlan. " Sudah tiga bulan saya menahan diri dan
meminta urusan antrean masuk tol jangan sampai menjengkelkan"
Menurut Dahlan, ia bahkan
selalu mengirimkan pesan pendek tiap minggu soal antrian ini. Plus, setiap kali
dia masuk gerbang tol penuh antrian kendaraan, dia selalu mengirimkan sms
kepada Direksi Jasa Marga. "Tapi kok tidak ada tindakan nyata"
ujarnya.
WDA
TEMPO.CO, Tangerang -
Ketika hendak berangkat ke Surabaya, Selasa kemarin, 28 Agustus 2012, Menteri
Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan ternyata menyempatkan diri membersihkan
toilet Bandar Udara Soekarno-Hatta.
Sumber Tempo menyebutkan
Menteri Dahlan sempat marah, karena ketika mampir di sebuah toilet di Terminal
2F, ia mendapati toilet tersebut kotor dan bau. Walhasil, mantan Direktur Utama
PLN itu langsung menyingsingkan lengan baju untuk membersihkan toilet tersebut.
Mengetahui kejadian itu,
pengelola bandara, PT Angkasa Pura II, mengaku kecolongan. Deputi Senior
General Manager Angkasa Pura II Bram Broto Tjiptadi membenarkan soal
bersih-bersih toilet yang dilakukan Dahlan Iskan.
Dihubungi Tempo, Bram
mengatakan apa yang dilakukan Dahlan sebagai kritik dan koreksi bagi AP II.
"Kami berterima kasih kepada Pak Menteri. Dengan koreksi ini, kami juga
melakukan evaluasi," kata Bram, Selasa, 28 Agustus 2012.
Bram menyatakan ada
kemungkinan satu toilet yang kotor itu luput dari pantauan petugas kebersihan.
Agak ironis memang, padahal sehari sebelumnya, Staf Ahli Direksi PT AP II,
Mulya Abdi, mengatakan tidak seorang pun pejabat yang komplain soal toilet.
"Kertas selembar dan
puntung rokok tidak ada. Kami sudah tempatkan provider berbeda untuk
membersihkan toilet di masing-masing terminal," kata Mulya.
Ia menyebutkan PT AP II
sudah merenovasi 323 toilet bandara yang saat ini, menurut Mulya, sudah wangi.
Mulya mengatakan, dulu, mengenali toilet bandara sangat mudah karena tutup hidung
pun masih bau pesing. "Sekarang, tutup hidung pun terciumnya wangi,"
kata Mulya.
Mulya juga mengatakan
setiap tiga bulan selalu mengevaluasi kinerja provider yang mengikuti tender,
yang dinilai oleh asosiasi toilet Indonesia, YLKI.
VIVAnews - Menteri Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, kembali beraksi di Terminal 2 Bandara
Soekarno-Hatta. Kali ini, Dahlan mengatur kemacetan yang terjadi di terminal 2
keberangkatan dan meminta mobil Mercedes Benz mewah yang parkir sembarangan
untuk pindah.
Kepala Humas Kementerian
BUMN, Faisal Halimi, Jumat, 26 April 2013, menjelaskan, seusai mengikuti salat
Jumat dan salat jenazah almarhum ustaz Jeffry Al Buchori, Dahlan Iskan
berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk terbang menuju Semarang, Jawa
Tengah.
Namun, saat mau memasuki
terminal 2, antrean mobil sangat panjang. Dari tanjakan hingga terminal 2F,
ditempuh sekitar 10 menit. Kemacetan ini membuat Dahlan Iskan geram dan
menelepon Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Tri S. Sunoko.
"Tolong dievaluasi
kembali kendaraan yang masuk dalam terminal 2 keberangkatan. Karena ini macet
panjang sekali dan kasihan orang yang buru-buru mau berangkat," kata
Dahlan Iskan kepada Tri Sunoko seperti disampaikan Faisal Halimi.
Setelah tiba di terminal
2F, Dahlan melihat sebuah mobil Mercedes Benz mewah parkir sembarangan tanpa
ada sopir. Dahlan meminta petugas untuk mencari sopir tersebut.
Setelah lima menit, sopir
datang dan Dahlan menanyakan siapa pemilik mobil tersebut. Sopir tersebut
menyebut nama salah seorang pengusaha terkenal.
"Anda jangan parkir
sembarangan, kasihan orang yang macet kepanjangan," kata mantan dirut PT Perusahaan
Listrik Negara ini.
Setelah itu, Dahlan
mengatur lalu lintas, mengarahkan kendaraan dan taksi agar jalan lancar sekitar
10 menit. Aksi itu terjadi dan menarik perhatian para pengguna jasa bandara.
"Selesai itu, beliau
masuk untuk menuju ke Semarang, melihat pabrik gula PTPN IX di Kudus dan Sabtu
ada acara bersama Perhutani," kata Faisal. (art)
Pengamat politik Sugeng
Soerjadi Syndicate (SSS) Toto Sugiarto (Dok Sindonews)
Sindonews.com - Peserta
konvensi calon presiden (Capres) Partai Demokrat, Dahlan Iskan berjanji tidak
akan melakukan kampanye. Ia berjanji, akan tetap fokus bekerja sebagai Menteri
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut Pengamat Politik
Sugeng Soerjadi Syndicate (SSS) Toto Sugiarto, keputusan Dahlan tersebut
merupakan salah satu strategi merebut simpati masyarakat.
"Betul (hanya nyari
simpati). Ia tahu pasti bagaimana cara merebut hati rakyat," kata Toto
Sugiarto melalui pesan singkatnya kepada Sindonews, Minggu (22/9/2013).
Toto menilai, lebih ideal
jika Dahlan mundur dari jabatannya. Menurutnya, berbagai gebrakan bisa dilakukan
untuk merebut hati rakyat.
"Berbagai gebrakan
yang telah dibuat contoh untuk mendapat simpati rakyat. Jika mundur lebih
banyak hal yang bisa dilakukan," tukasnya.
Seperti diketahui, Dahlan
sendiri sebagai peserta konvensi calon presiden (capres) dari Partai Demokrat,
berjanji tidak akan melakukan kampanye. Dahlan mengaku, yang akan berkampanye
tim sukses dan relawannya.
Tucuxi-Mobil-Listrik
Tucuxi: Manuver Dahlan
Iskan Capres 2014?
Berat sekali pelajaran
yang mesti dipetik pak DI mengingat kerusakan yang dialami oleh mobil seharga
sekian M itu. Yang lebih besar lagi tentunya damage yang pak DI sendiri kepada
potensi pencalonan dirinya. Di awal-awal kemunculannya dulu, DI yang merupakan
seorang media darling membumbungkan optimisme masyarakat dengan gaya koboinya
yang terkesan membumi namun tegas.
Toh beberapa insiden
berikutnya menjadi sebuah kejelasan blunder yang pak DI sudah ciptakan sendiri.
Terlalu seringnya DI wara woro dan ‘pamer’ betapa ia sedemikian sederhananya,
sedemikian rajinnya, sedemikian membuminya justru mempertemukan masyarakat pada
realita bahwa jangan-jangan pak DI gak lebih dari seorang pengidap narsisus
akut? Wong sepatu ada label “DI” mobil ada label “DI”.
Seperti yang sudah pernah
dibahas pada posting-posting terdahulu, penulis sudah sangat tajam merasakan
bahwa Dahlan adalah tipikal pemimpin yang mirip SBY, yakni hobi dengan
pencitraan. Bedanya, SBY tidak grabak-grubuk melakukannya sehingga masyarakat
susah dengan cepat mengendus hobi pencitraan SBY. Sesusah mengetahui ikan mana
minum air atau tidak saat berenang.
dahlan iskan capres 2014
Dahlan Iskan Capres 2014:
Strategi Pencitraan?
Nah kalau Pak DI, terlalu
masif gelora gebyar-gebyar pencitraannya. Apalagi ia terkesan gak sabaran dan
gak fokus. Kalau SBY dengan fasih melakonkan seseorang yang dizolimi, kalau DI
berusaha jadi segalanya. Di satu sisi, dia melakoni seorang Ahmadinejad yang
begitu membumi, di saat yang lain dia juga berusaha jadi seorang Wright
bersaudara yang begitu inovatif dan berani berkorban demi terciptanya mobil
Tucuxi, di sisi satunya lagi dia juga begitu getol macem ketua KPK ingin
membasmi korupsi, di sisi berikutnya DI juga memerankan seseorang yang
seolah-olah ahli dalam menangani kebocoran perusahaan-perusahaan negara. Toh
paling enggak, gak ada buktinya sih sampai saat ini.
Terkait Tucuxi, Dahlan
Iskan juga agak beda dengan Jokowi. Kalau Jokowi tau aturan. Dia tes Esemka
dengan mengikuti koridor yang berlaku; masih inget kan waktu Esemka gagal lulus
uji emisi? Jokowi bukannya menyerah dia justru membawa pulang Esemkannya untuk
diperbaiki oleh tim anak-anak sekolah tersebut. Akhirnya, Esemka mampu lulus.
Kalau Dahlan justru sebaliknya, semuanya ditabrak. Uji emisi dan keselamatan
ditabrak, pembikinan plat mobil yang resmi ditabrak, tebing batu juga ditabrak.
Insiden DI ini sudah
harus menjadi lampu kuning bagi penduduk Indonesia dalam menentukan pemimpin
kita berikutnya. Jangan sampai kejadian rejim SBY jilid 2 kejadian lagi dengan
versi yang lebih buruk. Jangan sampai kita dipimpin dengan orang-orang yang
rela menubruk koridor legalitas hanya demi libido penciptaan imej. PKS juga
yang katanya menjadi salah satu partai yang mungkin usung Dahlan harus sudah
bisa nih itung-itung ulang peluang pak DI akibat beberapa kejadian belakangan
ini. Jangan sampai PKS memperburuk lagi imej partainya dengan memilih orang
yang tidak mampu mengefektifkan kewenangan dirinya untuk kemaslahatan
masyarakat.
Ya gimana mau dibilang
pak DI efektif, wong sebagai menteri-BUMN justru malah asik dengan “tamiya”
barunya yang juga katanya tersandung dugaan percobaan tindakan plagiarisme /
pembajakan hak cipta. Duh pak DI, sudahlah pak,…. Jangan hanya karena ambisi
Dahlan Iskan Capres 2014, apa-apa menjadi lebay. Mau Jokowi kek, mau Dahlan
Iskan Capres 2014 kek, yang penting jangan malah mengorbankan impian rakyat.
Terimakasih untuk :







